Menu Close

Sejarah Lahirnya Musik Tradisional di Jepang

Hadirnya sejarah musik yang berada di Jepang ini sudah mencakup dasar keberagaman dari seniman di dalam gaya yang berbeda, baik itu Tradisional maupun Modern juga ada. Kata bagi Musik di negara Jepang dikenalnya sebagai “ Ongaku”, yang menggabungkan diantara kata ON = Suara dengan Kanji Kenyamanan = Gaku = Menyenangkan. Dalam sejarah, Jepang juga sudah dikenal sebagai pasar musik terbesar kedua di dunia setelah lahirnya negara Amerika Serikat dan sebagian besar pasar telah didominasi langsung oleh para seniman Jepang.

Tak ayal jika musik lokal ini sering muncul pada tempat-tempat layaknya Karaoke, yang sudah disewa dari label rekaman langsung. Musik Jepang Tradisional tak hanya memiliki beat maupun kecepatan atas nada khusus saja dan sifatnya memang tenang. Musiknya sendiri sudah berimprovisasi pada beberapa waktu. Diketahui sejak tahun 1873, seorang pengelana dari Inggris telah mengklaim langsung bahwa musik Jepang sudah menggusarkan sampai jauh sekali ke seluruh ketabahan atas jiwa-jiwa orang Eropa sana. 

 

Musik Tradisional Asal Jepang 

 

Bentuk tertua dari musik tradisional Jepang ini dikenal dengan nama Shomyo, Nyanyian Buddha dan Gagaku. Pengadilan musik Orkestra yang keduanya adalah tanggal atas periode Nara dan Heian. Untuk Gagaku sendiri masuk sebagai salah satu jenis musik klasik yang sudah dimainkan pada pengadilan Imperial sejak periode Heian juga. Kagurauta, lalu Azumaasobi hingga Yamatouta menjadi perkumpulan atas adat asli Jepang. Togaku dan juga Komagaku berasal dari dinasti Tang Cina dengan melalui semenanjung Korea. Selain daripada itu, Gagaku sendiri telah dibagi menjadi KANGEN atau musik Instrumental dan juga BUGAKU atau ini tari yang disertai langsung dengan Gagaku. 

Diawali dari abad ke 13, dimana Honkyoku yakni potongan asli dari Solo Shakuhachi yang dimainkan langsung oleh Mazhab pimpinan dari pengemis Fuke Buddhisme Zen. dimana pimpinan ini sudah disebutnya dengan Komuso yakni biksu kekosongan, bermain Bonkyoku untuk sedekah maupun pencerahan. Sekte Fuke sudah tidak ada lagi di abad ke 19, namun keturunan atas lisan dan tertulis dari banyak Honkyoku masih ada meskipun musik ini sudah sering sekali dipraktekkan dalam pengaturan dari konser maupun setting atas performancenya. 

 

Samurai seringkali mendengarkan dan sudah sering mempertunjukkan kegiatan di dalam music ini, dimana dalam praktik mereka juga sudah memperkaya hidup dan pemahaman mereka ini. Musik teater juga telah dikembangkan di Jepang sejak usia dini. Atau disini Noh sudah tidak muncul lagi dari berbagai tradisi lebih populer dan pada abad ke 14 telah berkembang menjadi seni yang sangat halus. Musik ini sendiri telah menuju puncaknya setelah dibawa olah Kan’ami 1333-1384 dan Zeami 1363-1443. Dalam Zeami sudah khusus disediakan inti dari  adat Noh dan juga Risalah banyak menuliskan tentang rahasia tradisi. 

 

Bentuk lain dari Teater Jepang ini sendiri adalah Teater Boneka, yang sangat sering dikenal sebagai bunraku. Teater Wayang  tradisional ini juga memiliki akar dalam tradisi populer dan berkembang khususnya selama Chunin pada periode Edo 1600-1868. Hal tersebut biasanya sudah disertai dengan Zikir atas berbagai gaya Joruri yang disertai oleh Shamisen. 

 

Selama Periode Edo Aktor setelah 1652, khususnya bagi laki-laki dewasa di dalam melakukan Kabuki yang sangat ramai dan teater populer. Kabuki juga bisa menampilkan apapun itu dari cerita sejarah yang dibawa dalam sebuah tarian, sering sekali disertai dengan Nagauta gaya bernyanyi dan kinerja dari Shamisen itu sendiri. 

 

Musik dari Jepang atau Folk Music

 

Ada Hoshi Biwa – Biwa Heike – Moso dan Goze – dimana The Biwa menjadi suatu bentuk atas kecapi yang berleher pendek, dimainkan oleh sekelompok penyanyi keliling Hoshi Biwa yang digunakan untuk mengiringi cerita. Yang mana paling terkenal dari cerita ini adalah The Tale dari Heike, sejarah abad ke 12 kemenangan klan Minamoto atas Taira. Dimana Biwa  Hoshi sudah mulai mengorganisir diri mereka ke dalam sebuah asosiasi serikat seperti halnya TODO, bagi laki-laki tunanetra pada awal abad ketiga belas. Asosiasi ini akhirnya dikendalikan oleh sebagian besar dari Budaya Musik Jepang. 

 

Selain daripada itu, kelompok-kelompok kecil banyak musisi buta keliling yang dibentuk khususnya dari daerah Khusyu. Musisi ini telah dikenal sebagai biksu buta moso, mereka berkeliling dan melakukan berbagai ceramah dari agama dan hal-hal yang berbau agama dalam memurnikan rumah tangga dan membawa kesehatan untuk kebaikan dan juga keberuntungan. Mereka juga mempertahankan perbendaharaan genre sekuler. Para Biwa yang mereka mainkan jauh lebih kecil daripada Biwa Heike yang sudah dimainkan oleh Hoshi Biwa. 

 

Lafcadio  Hearn telah terkait di dalam bukunya Kwaidan : sejarah dan pembelajaran pemikiran asing Mimi-nashi Hoichi tanpa telinga, cerita hantu Jepang tentang Hoshi Biwa Buta yang sudah menceritakan Kisah Tentang Heike. Wanita buta yang dikenal sebagai Goze, juga tour di daerah itu sejak Zaman Abad pertengahan, menyanyikan lagu dan juga bermain musik yang akan mengikuti ketukan drum. Dari abad ketujuh belas mereka juga sering memainkan Koto ataupun Shamisen. Organisasi Goze juga bermunculan dari seluruh negeri dan ada sampai dengan saat ini dalam bentuk Polisi Niigata. 

 

Sejarah Taiko di Jepang 

 

Kalau untuk Taiko sendiri masuknya ke dalam alat musik Jepang “ Drum “, yang datang dalam berbagai ukuran dan digunakannya untuk memainkan berbagai macam genre musik yang ada. Hal ini sudah populer dalam beberapa tahun terakhir sebagai sebuah sentral instrumen dari ansambel perkusi yang didasarkan pada berbagai rakyat dan festival musik di masa lalu. Taiko musik tersebut juga dimainkan dengan oleh drum besar ansambel disebut Kumi-Daiko. Asalnya tidak diketahui pasti, namun bisa terbentang jauh kembali saat abad ke 7, ketika seorang tokoh drummer tanah liat menunjukkan keberadaannya. 

 

Pengaruh Cina sudah mengikuti, namun instrumen dan musik tetap saja dalam keunikan Jepang. Drum Taiko selama periode ini digunakan selama pertempuran untuk mengintimidasi musuh dan perintah untuk berkomunikasi. Taiko juga terus saja digunakan dalam religius Buddhisme dan Shinto. Pemain terakhir sendiri adalah orang-orang kudus, yang mana bermain hanya pada acara-acara khusus dan dalam kelompok kecil, namun pada warga laki-laki jarang adanya perempuan, beberapa waktu juga sudah memainkan Taiko dalam festival semi keagamaan seperti halnya Tarian bon. 

 

Modern Ansambel Taiko ini dikatakan telah diciptakan oleh Daihachi Oguchi pada tahun 1951. Seorang Drummer Jazz, musik dari latar belakang Oguchi dimasukkannya ke dalam Ansambel yang besar, dimana dia juga yang sudah mendesain. Gaya energiknya, mampu membuahkan kelompok populer di seluruh Jepang dan sudah membentuk wilayah Hokuriku pusat untuk musik Taiko, yang digunakan sebagai cara hidup dalam gaya hidup komunal. Selama tahun 1970 an, Pemerintah Jepang sudah mengalokasikan dana untuk melestarikan budaya Jepang dan banyak sudah kelompok masyarakat Taiko terbentuk. Kemudian pada abad ini, kelompok Taiko tersebar di seluruh dunia, terutama ke Amerika Serikat. Video Game Taiko Drum Master juga karena kebudayaan Taiko. Nah salah satu contoh dari sebuah band Taiko Modern Gocoo. 

 

Itulah sedikit sejarah lahirnya Musik Tradisional Jepang yang sudah kami jelaskan pada artikel ini. Dimana masih ada lagi sebenarnya penjelasan atas Min’yo musik rakyat dan Musik Ryukyuan sebagai musik rakyat Okinawan yang bisa kami bahas pada beberapa artikel lanjutannya. Terima Kasih..